Masyarakat sejahtera adalah masyarakat yang terpenuhi kebutuhannya terutama pada
kebutuhan sandang, pangan dan papan secara berimbang. Sebaliknya masyarakat
dapat disebut miskin apabila salah satu kebutuhan ini tidak dapat
terpenuhi. Tingginya angka kemiskinan
nasional dewasa ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tidak
mampu memenuhi ketiga kebutuhan tersebut. Dan salah satu sorotan penting pada
kondisi saat ini adalah banyaknya
masyarakat yang tinggal di rumah-rumah atau lingkungan yang tidak layak huni
baik ditinjau dari segi kesehatan maupun keamanan. Kemampuan pemerintah dalam menyiapkan rumah
layak huni bagi keluarga miskin sampai saat ini juga belum optimal sehingga
dimana-mana baik diperkotaan maupun diperdesaan masih mudah kita jumpai rumah
atau lingkungan yang tidak layak huni.
Bagaimana dengan Nusa Tenggara Barat? Tentunya
tidaklah berbeda dengan kondisi nasional dimana angka kemiskinan juga masih
cukup tinggi yaitu sekitar 19,73 % dari jumlah penduduk yang ada atau 894.770 jiwa. Kalau diperkirakan bahwa satu keluarga terdiri
dari empat jiwa maka terdapat sekitar 225.000 Kepala Keluarga hidup dalam kemiskinan dan tentunya
sangat korelatif dengan jumlah rumah tidak layak huni. Dengan jumlah rumah
kumuh yang cukup tinggi tersebut maka diperlukan adanya upaya komprehensif
dalam penanganannya. Diperlukan peran aktif dari seluruh komponen masyarakat
untuk bersama pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan kemiskinan
tersebut. Kita menyadari bahwa mengatasi persoalan kemiskinan tidaklah semudah
membalik telapak tangan. Keterlibatan masyarakat dalam berbagai program
pengentasan kemiskinan merupakan keniscayaan dalam mewujudkan masyarakat yang
sejahtera. Dengan dasar berfikir demikian, maka BPMPD Prov. NTB pada tahun 2007,
2008, dan 2011 melalui dana APBD melaksanakan kegiatan Rehabilitasi Rumah Kumuh
dengan metode partisipatif atau pola pemberdayaan. Kegiatan ini cukup dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat baik yang secara langsung mendapatkan bantuan maupun
masyarakat sekitarnya.
Kegiatan Rehabilitasi Rumah Kumuh
Akhir tahun 2007, BPMPD Prov. NTB mendapatkan alokasi
dana bantuan sosial untuk kegiatan rehabilitasi rumah kumuh sebanyak 500 unit
dengan total biaya Rp. 2,5 Miliyar atau Rp. 5 juta per-unit rumah. Oleh karena
cukup sukses dalam mendorong kesejahteraan masyarakat maka pada tahun 2008
ditingkatkan menjadi 1000 unit dengan total biaya Rp. 5 miliyar (lihat table 1).
Meski pada tahun 2009 dan 2010 BPMPD Prov. NTB tidak lagi mendapatkan alokasi
angaran untuk kegiatan ini, namun
kegiatan sejenis ini tetap dilaksanakan dengan berbagai model atau pola
pendekatan oleh instansi lain baik dilingkup Pemerintah Provinsi maupun
Pemerintah Kab/Kota. Seiring dengan itu, tampak bahwa kegiatan rehabilitasi
rumah kumuh dengan pola pemberdayaan oleh BPMPD prov. NTB pada tahun 2007 –
2008 cukup signifikan dalam mendorong tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan maka pada tahun 2011 BPMPD prov. NTB kembali mendapatkan alokasi
anggaran untuk 1000 unit dengan total dana sebesar Rp. 5 miliyar. Adapun sasaran
kegiatan tersebar di empat kab/kota yaitu Kab. Loteng (100 unit), Kab. Sumbawa
(100 unit), Kota Bima (400 unit), dan Kota Mataram (400 unit).
Tabel 1 : Alokasi Bantuan
Rehabilitasi Rumah Kumuh Metode Partisipatif
No.
|
Kab/Kota
|
2007
(unit)
|
2008
(unit)
|
2011
(unit)
|
1.
|
Kota Mataram
|
25
|
40
|
400
|
2.
|
Kab. Lombok Barat
|
90
|
160
|
-
|
3.
|
Kab. Lombok Tengah
|
100
|
200
|
100
|
4.
|
Kab. Lombok Timur
|
100
|
240
|
-
|
5.
|
Kab. Sumbawa Barat
|
20
|
40
|
-
|
6.
|
Kab. Sumbawa
|
50
|
80
|
100
|
7.
|
Kab. Dompu
|
35
|
60
|
-
|
8.
|
Kab. Bima
|
60
|
140
|
-
|
9.
|
Kota Bima
|
20
|
40
|
400
|
Total
|
500
|
1.000
|
1.000
|
![]() |
| Kondisi Awal |
![]() |
| Proses Perbaikan |
Metode pelaksanaan kegiatan untuk tahun 2011 sedikit
berbeda dengan metode tahun 2007-2008, dimana bantuan diterima langsung oleh
kelompok masyarakat tanpa melalui rekening Pemerintah Desa/Kelurahan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan
adanya penyalahgunaan bantuan oleh pihak lain yang tidak berkepentingan. Dana
yang diterima dari Biro Keuangan Setda Pemerintah Prov. NTB melalui rekening
kelompok, oleh ketua dibelanjakan bahan sesuai dengan RAB dalam proposal dan
selanjutnya dibagi kepada anggota yang jumlahnya berkisar 20 s/d 30 orang.
Kelompok ini pulalah yang melakukan kegiatan rehabilitasi rumah secara
bergotong royong dengan koordinasi ketua kelompok dan pengawasan dari Kepala
Desa atau Lurah.
![]() |
| Kondisi Akhir |
Dilihat dari hasil pekerjaan cukup mengisyaratkan
bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini adalah cukup tinggi. Dengan
bantuan Rp. 5 juta kualitas pekerjaan
dapat melampaui perkiraan berdasarkan harga bahan saat ini. Disinilah letak
keistimewaan pengembangan kualitas pemukiman bagi warga miskin pola
pemberdayaan oleh BPMPD Prov. NTB sehingga banyak menginspirasi instansi lain
untuk melakukan kegiatan yang sama. Meskipun demikian, hal terpenting untuk
dilakukan adalah koordinasi yang konsisten dan berkesinambungan harus tetap
diupayakan sehingga pengentasan kemiskinan di NTB dapat membuahkan hasil yang
optimal bagi kemakmuran masyarakat. Terdapat tiga komponen utama yang menjadi
sasaran perbaikan rumah kumuh secara partisipatif ini yaitu perbaikan atap,
alas dan dinding. Kondisi ketiga komponen ini adalah cukup parah sebelumnya
sebagaimana hasil survey atau identifikasi lapangan oleh petugas sebelum
proposal disetujui untuk ditetapkan oleh Gubernur NTB. Oleh Karena ketiga
komponen ini juga termasuk tiga komponen dari empat belas indikator kemiskinan,
maka kegiatan rehabilitasi rumah kumuh berdampak langsung terhadap penurunan
angka kemiskinan.
NO.
|
KAB/KOTA
|
KECAMATAN
|
DESA/KEL
|
TARGET
|
REALISASI
|
%
|
1.
|
KOTA MATARAM
|
AMPENAN
|
AMPENAN UTARA
|
10
|
10
|
100
|
2.
|
KEBON SARI
|
20
|
20
|
100
|
||
3.
|
DAYEN PEKEN
|
20
|
20
|
100
|
||
4.
|
PEJERUK
|
20
|
20
|
100
|
||
5.
|
PEJARAKAN KARYA
|
20
|
20
|
100
|
||
6.
|
SEKARBELA
|
KARANG PULE
|
20
|
20
|
100
|
|
7.
|
JEMPONG BARU
|
30
|
30
|
100
|
||
8.
|
MATARAM
|
PAGUTAN BARAT
|
10
|
10
|
100
|
|
9.
|
PEJANGGIK
|
10
|
10
|
100
|
||
10.
|
PAGESANGAN BRT
|
10
|
10
|
100
|
||
11.
|
SELAPARANG
|
REMBIGA
|
30
|
30
|
100
|
|
12.
|
MONJOK TIMUR
|
10
|
10
|
100
|
||
13.
|
MONJOK BARAT
|
20
|
20
|
100
|
||
14.
|
CAKRANEGARA
|
SAYANG-SAYANG
|
30
|
30
|
100
|
|
15.
|
SANDUBAYA
|
DASAN CERMEN
|
30
|
30
|
100
|
|
16.
|
SELAGALAS
|
30
|
30
|
100
|
||
17.
|
TURIDA
|
30
|
30
|
100
|
||
18.
|
MANDALIKA
|
20
|
20
|
100
|
||
19.
|
BABAKAN
|
30
|
30
|
100
|
||
20.
|
KAB. LOTENG
|
PUJUT
|
REMBITAN
|
100
|
100
|
100
|
21.
|
KAB. SUMBAWA
|
LAPE
|
DETE
|
100
|
100
|
100
|
22.
|
KOTA BIMA
|
RASANAE BARAT
|
TANJUNG
|
102
|
102
|
100
|
23.
|
PARUGA
|
46
|
46
|
100
|
||
24.
|
NAE
|
42
|
42
|
100
|
||
25.
|
SARAE
|
42
|
42
|
100
|
||
26.
|
PANE
|
25
|
25
|
100
|
||
27.
|
DARA
|
43
|
43
|
100
|
||
28.
|
ASAKOTA
|
MELAYU
|
70
|
86
|
122
|
|
29.
|
MPUNDA
|
SANTI
|
30
|
30
|
100
|
Rehabilitasi Rumah Kumuh Tahun
2012
Bila dilihat dari jumlah rumah tidak layak huni di
NTB yang diperkirakan berkisar 250.000
unit maka tidak sedikit biaya yang dibutuhkan dalam pengentasannya. Biaya ini
akan makin besar lagi apabila pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menjaga
tempat tinggal dan lingkungan agar tidak kumuh juga harus ditingkatkan melalui
kegiatan-kegiatan pembinaan. Oleh karena itu, kebutuhan akan rehabilitasi rumah
kumuh metode partisipatif dari segi kuantitas perlu ditingkatkan pada tahun
2012 sekitar 2.500 unit.
Dilihat dari segi ekspektasi penyebaran dan manfaat
ganda yang ditimbulkannya, maka kegiatan rehabilitasi rumah kumuh pada tahun
2012 masih layak dilaksanakan dengan metode partisipatif. Oleh karena itu,
perlu sejak awal ditetapkan instansi yang menjadi leading sector kegiatan untuk segera melakukan berbagai langkah
persiapan termasuk koordinasi.
Rencana Alokasi Bantuan
Rehabilitasi Rumah Kumuh Metode Partisipatif Tahun 2012,
dianggarkan sekitar 4.000 rumah dengan mempertimbangkan kesiapan “sharing”
masing-masing Kabupaten/Kota. Kabupaten/Kota yang memiliki sharing lebih dari
Kabupaten/Kota yang lain, dipertimbangkan mendapatkan alokasi lebih dari
Pemerintah Provinsi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar